Dihadapkan Dengan Hiperendemi, Sudah Siapkah Indonesia?

  • Whatsapp



Majalahtime.com – Istilah Hiperendemi santer di telinga masyarakat. Melalui media sosial, istilah itu mulai diperbincangkan oleh banyak khalayak. Lantas apa itu hiperendemi.

Dilansir dari berbagai sumber, istilah itu Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, hiperendemi pengertiannya merujuk pada kehadiran wabah secara terus-menerus dalam suatu wilayah. Selain itu, wilayah disebut mengalami hiperendemi saat wabah atau penyakit memiliki kasus sangat banyak dan mudah terdeteksi di populasi.

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, hiperendemi pengertiannya merujuk pada kehadiran wabah secara terus-menerus dalam suatu wilayah. Selain itu, wilayah disebut mengalami hiperendemi saat wabah atau penyakit memiliki kasus sangat banyak dan mudah terdeteksi di populasi.

Penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia dinilai masih jauh dari optimal. Oleh karena itu, para ahli menilai Indonesia bakal berstatus hiperendemi.

“Indonesia kelihatannya akan mengalami long pandemi,” kata Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra.

Padahal, banyak negara lain sudah mulai mengalami penurunan kasus dengan aktivitas yang mulai kembali normal. Misalnya perhelatan olahraga yang tetap mengizinkan banyak penonton. Sementara di Indonesia masih belum.

“Kalau saja pandemi itu akan dicabut oleh WHO setelah mengevaluasi pengaruhnya di dunia di berbagai benua dan negara, Indonesia ya potensial terjadi hiperendemi ya,” lanjutnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sudah mewanti-wanti bahwa masyarakat bakal hidup berdampingan dengan Covid-19. Karena itu, penerapan protokol kesehatan harus tetap berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Selain Covid-19, Indonesia juga berhadapan dengan dengan hiperendemi Tuberkulosis (TB atau TBC). Setiap tahun, Indonesia masuk ranking tiga besar negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia.

“Terkait statement bahwa kita akan hidup bersama Covid-19, bukan hal yang baru. Ribuan tahun manusia hidup dengan penyakit menular, bahkan 17 bulan ini kita sudah hidup bersama Covid-19. Biasa saja itu, bukan sesuatu yang aneh,” ujar ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), dr Masdalina.

Butuh Perencanaan

Salah satu pakar dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, mengusulkan pemerintah untuk mempersiapkan perencanaan secara menyeluruh sebelum memasuki fase Hiperendemi terkait Covid-19. Ia mengatakan pemerintah tak cukup hanya hanya menyiapkan protokol kesehatan.

“Negara kita potensial menjadi hiperendemi, road map-nya harus menyeluruh,” kata Hermawan.

Ia menilai permasalahan pandemi Covid-19 itu kompleks. Hermawan mengatakan yang dihadapi bukan hanya penambahan kasus paparan SarS-CoV-2, melainkan penyakit penyerta atau komorbid pasien yang bisa memperkeruh kondisi.

Hermawan menyoroti berbagai penyakit yang dianggap berisiko tinggi saat tertular SarS-CoV-2. Di antaranya stroke, jantung, gagal ginjal, tuberkolosis, malaria dan diabetes. Ia mengatakan pemerintah harus menyiapkan road map yang mengacu pada ketahanan kesehatan di masyarakat.

“Road map bukan hanya Covid-nya, tapi menyangkut risiko penyakit lain yang menjadi faktor yang memperburuk keadaan,” ujarnya.

“Kalau bicara kesehatan itu, dalam road map seolah hanya rumah sakit, dokter, dokter spesialis, klinik. Padahal upaya ketahanan kesehatan masyarakat itulah yang menjadi hulu,” imbuhnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.





Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.