Peran Surat Kabar Sin Po, Mempopulerkan Kata Indonesia Pasca Sumpah Pemuda

  • Whatsapp



Proklamator ID – Sin Po merupakan nama surat kabar Tionghoa yang berbahasa Melayu yang terbit di Hindia sejak tahun 1910 hingga setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Alasan pendirian Sin Po sebagai surat kabar, sebagai upaya simpatik pada perjuangan kaum nasionalis yang melepaskan diri dari Dinasti menjadi Republik Tiongkok.

Surat kabar Sin po  pertamakalinya media cetak yang diterbitkan di Jakarta pada mingguan, pada 1 Oktober 1910 dan pertamakalinya adalah Laum Giok Lan.

Kendati demikian, Tan Tek Ho yang merupakan jurnalis, menempuh pendidikan di Lamonh, diketahi bahwa Arima Seikat murp.

Tan Tek Ho setelah menamatkan pendidikan di Kay Lam Hak Tong, di Nanjing, Tiong Kok. Dia kembali ke Jawa.

Pendirian surat kabar tersebut terletak di Jalan Asemka, 29 Jakara, sekaligus juga sebagai kantor beritanya. Kendati demikian, pimpinan redaksi pertamakalinya yakni Laum Giok Lan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kisaran pada tahun 1927 sampai dengan 1947, pemimpin redaksi Sin PO dijabat oleh Kwee Kek Beng, wartawan yang cukup tersohor, meninggal di Jakarta pada bulan Mei 1979.

Perjalanan surat kabar Sin Po cerminkan haluan politik sebagian masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda pada masa Penjajahan Belanda.

Advertisement. Scroll to continue reading.

 

Sin Po Tugaskan WR Soepratman Wartaklan Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda digelar sebagai wujud manifestasi gerakan pemuda, pasalnya, hampir semua daerha dan suku mendatangkan perwakilannya. Semuanya hadir dari Sabang sampai Merauke

Salah satu toko bernama Kwee Thiam Hong, Pelajar berumur 18 tahun asal Eerste Gouveraements Mulo Batavia yang merupakan anggota Jong Sumatranen Bond kelahiran Palembang.

Awal mula perjalanan sumpah pemuda, terinsipirasi dan berangkat dari pidato Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Insinyur Soekarno.

Bahkan, WR Soepratman ditugaskan oleh Sin Po untuk meliput acara sumpah pemuda. Sehingga, dengan peliputannya tersebut, turut juga WR Supratman mengusulkan kepada Sugondo Joyopuspito ketua Panitia untuk membawakan lagu Indonesia raya.

Padahal, dikabarkan bahwa waktu itu masih belum ada nama Indonesia, yang dikenal adalah Hindia Belanda. Bahkan, cerita lagu itu, WR Supratman ciptakan hanya 8 hari saja. Syair lagu itu lahir karena terinspirasi pidato Soekarno di Bandung.

“Airnya kamu minum, nasinya kamu makan. Abdikanlah dirimu padanya. Kepada Ibu Pertiwi, Ibu Indonesia,”. Begitu penggalan pidatonya.

 

15 Pemuda yang Ucapkan Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda digelar pada tanggal 26 – 28 Oktober 1928, pasca pelaksanaan sumpah pemuda. Kemudian nama “Indonesia” dipopulerkan oleh Sin Po.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Alasan Sin Po mempopulerkan nama tersebut, sebagai upaya membangkitkan kesadaran indentitas dan solidaritas bangsa. Sehingga identitas “inlander” diubahnya menjadi “warga Indonesia” atau “bangsa Indonesia.

Kemudian, musik Indonesia Raya yang dibuat, diaransemen oleh Jozef Cleber atau Jos Cleber yang merupakan warga Negara Belanda. Sehingga tanpa disadari, sebagai upaya perjuangan kampanye Indonesia lewat media massa meluas.

Andaikan tidak ada Sin Po nama Indonesia tidak akan menjadi inspirasi lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia. Hebatnya semangat identitas kebangsaan Indonesia melalui media massa itu lahir dari inisiatif warga etnis Tionghoa.

Berikut Pemuda yang berpartisipasi dalam   Sumpah Pemuda

  1. Sie Kong Liong
  2. Kwe Tiem Hong
  3. Oei Kam Siam
  4. A.K.Gani
  5. Mhd.Roem
  6. Kasman Singodimejo
  7. Karto Swiryo
  8. Sidik Mangunsarkoro
  9. W.R.Supratman
  10. Amir Syarifudin Harahap.
  11. Mhd.Yamin
  12. Joko Marsaid
  13. Sugondo Joyopuspito
  14. J. Leimena.
  15. Sunaryo.

Namun tanpa sebab, Pasca Indonesia merdeka, etnis Tionghoa didiskriminasi di era Soeharto dengan politik RRC Komunis, namun diskriminasi itu tidak membuat mereka lelah mencintai Indonesia.

Mereka berjuang secara mandiri sehingga menjadikan mereka sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menciptkaan puluhan juta angkatan kerja.

Walau sampai kini tetap di hujat oleh sebagian orang Indonesia. Mereka tetap bangga sebagai Orang Indonesia.



Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.