[ad_1]
Pandemi COVID-19 ini belum mampu menyadarkan masyarakat kita akan pentingnya mengonsumsi lebih banyak sayuran meski mereka tahu manfaat makan sayur untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Pandemi virus korona yang berkepanjangan telah memaksa banyak perusahaan di Indonesia untuk melanjutkan langkah kerja dari rumah untuk mencegah karyawan tertular atau menularkan virus mematikan tersebut kepada orang lain.
Akibatnya, bekerja dari rumah tidak lagi menjadi hak istimewa. Sebaliknya, itu telah menjadi kebutuhan bagi perusahaan dan kantor pemerintah karena mereka berusaha untuk menghentikan kasus COVID-19 baru yang muncul di cluster tempat kerja.
Namun, para karyawan terkadang mengeluhkan kebosanan karena melanjutkan rutinitas kerja dari rumah tanpa harus bersosialisasi dengan rekan kerja di lingkungan kantor.
Atman Ahdiat, seorang jurnalis senior, telah berkebun untuk mengatasi kelelahan dan mengurangi kecemasan saat bekerja dari rumah.
Ahdiat telah mulai menanam berbagai sayuran berdaun hijau, termasuk kangkung (kangkung) dan choy sum, di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.
“Saya membeli bibit sayuran yang saya inginkan secara online,” katanya, seraya menambahkan bahwa sayuran yang dia tanam di pekarangan rumahnya ditujukan untuk keluarganya dan untuk dibagikan kepada tetangga.
Ketidakpastian seputar akhir pandemi COVID-19 dapat membantu kampanye yang mempromosikan konsumsi sayuran yang lebih tinggi untuk meningkatkan daya tarik kekebalan di negara ini, menurut Nur Fajrina, peneliti benih di PT East West Seed Indonesia (EWINDO), sebuah perusahaan benih sayuran terintegrasi.
Selain itu, berkebun di rumah yang lebih populer di kalangan rumah tangga di Jawa perlu diperkenalkan kepada masyarakat yang tinggal di pulau-pulau lain di Indonesia, ujarnya.
Mengapa ini perlu? Berkebun di rumah tidak hanya membantu meningkatkan ketahanan pangan, sumber pendapatan, dan kesejahteraan rumah tangga Indonesia, tetapi juga membantu meningkatkan kesadaran di kalangan milenial tentang pentingnya mengonsumsi sayuran, jelas Nur Fajrina dalam keterangan pers yang diterima oleh ANTARA di Jakarta pada hari Jumat.
Oleh karena itu, berkebun rumah telah masuk dalam program pengentasan kemiskinan pemerintah Indonesia tahun ini mengingat melalui konsumsi sayuran berdaun hijau yang dipanen rumah tangga dari pekarangan rumah dapat memenuhi kebutuhan gizi secara teratur, tambahnya.
Memang, tren berkebun di rumah telah meningkat setelah COVID-19.
Survei bersama EWINDO dan UPN Yogyakarta memastikan tren ini, jumlah tukang kebun rumah meningkat hampir 47 persen.
Menurut survei yang didanai oleh Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR), sekitar 47,6 persen pekebun rumah tinggal di Jawa, sedangkan 31,06 persen tinggal di Sumatera; 11,91 persen di Sulawesi; 7,02 persen di Bali dan Nusa Tenggara; 2,13 persen di Kalimantan; dan 0,21 persen di Maluku dan Papua.
ACIAR adalah lembaga pemerintah Australia yang mengklaim telah menugaskan dan mengelola lebih dari 1.500 proyek penelitian di 36 negara, bermitra dengan 150 lembaga dan lebih dari 50 organisasi penelitian Australia.
Meski ada peningkatan yang menjanjikan pada tukang kebun rumahan di Indonesia, temuan survei menunjukkan bahwa di tengah pandemi global, konsumsi sayuran di kalangan masyarakat Indonesia tetap rendah.
“Pandemi COVID-19 ini belum mampu menyadarkan masyarakat kita akan pentingnya mengonsumsi lebih banyak sayuran meski mereka tahu manfaat makan sayur untuk meningkatkan kekebalan,” kata Fajrina dari EWINDO.
Dalam webinar awal pekan ini, ia membagikan hasil survei yang dilakukannya dengan peneliti UPN Yogyakarta Dr. RR Rukmowati Brotodjojo dan Dr. Dwi Aulia Ningrum.
Menurut Fajrina, survei menunjukkan konsumsi sayuran di masyarakat Indonesia tetap tidak berubah meski banyak warga yang sadar akan manfaat makan sayur bagi kesehatan di tengah pandemi.
Namun, mereka belum termotivasi untuk menambahkan lebih banyak sayuran ke dalam makanan mereka, tambahnya.
Dalam survei EWINDO-UPN, yang mencakup 1.201 rumah tangga dengan pendapatan, pendidikan, dan latar belakang usia yang berbeda di beberapa provinsi di Indonesia, 76,4 persen responden mengatakan mereka memilih untuk menambahkan porsi sayuran setiap hari ke dalam makanan mereka karena alasan kesehatan di tengah pandemi. .
Namun, hanya 58,2 persen responden yang mengatakan bahwa mereka mengonsumsi lebih banyak sayuran segar dibandingkan sebelum pandemi. Sisanya mengakui konsumsi sayuran mereka tidak berubah.
Hasil survei menunjukkan tren penurunan konsumsi beberapa sayuran berdaun hijau, seperti kangkung atau kangkung, bayam, dan choy sum. Konsumsi kangkung mengalami penurunan sekitar 11 persen, bayam 6 persen, dan choy sum 3 persen, sesuai survei.
Jadi, pemahaman yang baik tentang manfaat makan sayur untuk kesehatan yang lebih baik tidak serta merta memicu peningkatan konsumsi sayur, menurut survei tersebut.
Mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat, kebiasaan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya, mungkin telah berkontribusi pada hal ini, kata Fajrina sambil menambahkan, mengubah kebiasaan makan membutuhkan upaya yang luar biasa.
Kebiasaan makan tersebut terlihat dari belanja masyarakat untuk membeli sayuran yang masih rendah, jelasnya.
Sensus nasional Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menetapkan belanja bulanan per kapita buah dan sayur hanya Rp65.342.
Dibandingkan dengan total pengeluaran untuk makanan, pengeluaran per kapita untuk buah dan sayur hanya 11 persen, kata Fajrina, seraya menambahkan bahwa melihat upah minimum regional (UMR) tertinggi di Indonesia, termasuk di Jakarta (Rp4,4 juta), pekerja hanya membelanjakan 1,5 persen dari total gaji bulanan mereka untuk buah dan sayur.
Padahal, ketersediaan stok sayuran di Indonesia mencukupi berkat pasokan sayur mayur yang berkelanjutan dari sentra-sentra pertanian, ditambah lagi dengan kebun sayur yang diusahakan oleh banyak rumah tangga untuk konsumsi sendiri, kata Fajrina.
Temuan survei terbaru yang juga didukung oleh Program Alumni Research Support Facility (ASRF) ini semakin menegaskan bahwa tidak ada perubahan konsumsi sayuran.
Temuan itu didukung data BPS yang menunjukkan konsumsi buah dan sayur Indonesia pada 2020 turun sekitar 0,64 persen dibanding 2019, kata Fajrina. Tak hanya itu, konsumsi sayur per kapita per hari tetap 209 gram dibandingkan 400 gram yang direkomendasikan WHO, tambahnya.
Dia menyimpulkan bahwa pandemi telah gagal membangun opini publik tentang pentingnya makan lebih banyak sayuran, meskipun orang tahu tentang manfaat konsumsi sayur yang lebih tinggi dalam membangun kekebalan.
Survei yang dilakukan dari Oktober hingga November tahun lalu juga menunjukkan bahwa konsumsi sayuran di antara karyawan aktif dan tidak aktif relatif rendah, katanya.
Menyikapi kenyataan faktual ini, survei telah menyoroti perlunya meluncurkan kampanye kesadaran publik yang berkelanjutan tentang manfaat kesehatan dari konsumsi sayuran agar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat mencapai tujuannya.
Kampanye perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi sinergis antara kementerian pertanian, kesehatan, serta desa, daerah tertinggal, dan dalam rangka transmigrasi, sarannya.
Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat melalui Program Isi Piringku (isi piring saya), kata Fajrina.
Program yang bertujuan untuk mendidik orang tua dan anak tentang pentingnya gizi seimbang ini harus diperkenalkan sejak usia dini, tambahnya.
Kampanye terkait konsumsi sayuran yang mempromosikan makan sayuran berdaun hijau dan matang akan lebih efektif jika balita dan siswa sekolah dasar dilibatkan sejak usia dini, katanya.
Survei EWINDO-UPN juga menunjukkan bahwa persentase generasi milenial yang tidak makan sayuran lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia di atas 36 tahun, ungkapnya.
Berdasarkan temuan survei, konsumsi sayuran pada masyarakat yang tinggal di Jawa masih lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di luar pulau.
Untuk meningkatkan konsumsi sayur mayur di kota-kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, ia menyarankan agar komoditas pertanian yang dipasok oleh pekarangan rumah perlu diperkenalkan, selain sayuran segar seperti ketimun, wortel, dan tomat. (INE)
Berita Terkait: Indonesia mendapatkan 6,48 juta dosis vaksin dari Sinovac, Sinopharm
Berita Terkait: Kementerian mengeluarkan larangan bepergian untuk Wakil Ketua DPR Syamsuddin
DIEDIT OLEH INE





