Majalah TIME: Geografi sebagai Senjata: Ketika Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Menjadi Tombak Iran
Dunia kerap memandang kekuatan militer dari jumlah rudal, kapal induk, atau hulu ledak nuklir.
Tahukah Anda, dalam lanskap geopolitik modern, ada senjata yang tak kalah dahsyat: geografi.
Dan dalam konteks Iran, dua nama selalu membuat pasar energi berdebar—Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Bayangkan bila dua jalur sempit itu diblokir. Sekitar 20 juta barel minyak per hari—hampir 30 persen perdagangan minyak mentah dunia—melewati Selat Hormuz.
Di sisi lain, Bab el-Mandeb menjadi pintu vital menuju Terusan Suez dan jalur energi ke Eropa. Bila keduanya terganggu, bukan sekadar kapal yang tertahan. Yang terguncang adalah fondasi ekonomi global.
Selat Hormuz: Tenggorokan Energi Dunia
Selat Hormuz adalah “tenggorokan” energi global. Jalur selebar puluhan kilometer ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan tentu saja Iran, mengirimkan minyaknya melalui perairan ini.
Jika Iran benar-benar menutup atau mengganggu lalu lintas di sini—baik melalui ranjau laut, kapal cepat, maupun ancaman rudal pantai—dampaknya bukan sekadar militer, melainkan finansial.
Harga minyak dunia bisa melonjak drastis dalam hitungan jam. Bursa saham bergejolak.
Inflasi global meroket. Negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, India, hingga negara-negara Eropa akan terpukul keras.
Bab el-Mandeb: Pintu Selatan Eropa
Di sisi lain, Selat Bab el-Mandeb adalah simpul strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini menjadi akses utama menuju Terusan Suez—urat nadi perdagangan antara Asia dan Eropa.
Gangguan di sini berarti kapal harus memutar jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Biaya logistik melonjak.
Waktu tempuh bertambah berminggu-minggu. Gas alam cair (LNG) yang menuju Eropa terhambat.
Dalam situasi di mana Eropa masih berusaha mengamankan pasokan energi pasca ketegangan dengan Rusia, hambatan tambahan bisa berarti krisis energi baru.
Senjata yang Lebih Dahsyat dari Nuklir?
Iran memang dikenal memiliki rudal balistik dan drone yang terus dikembangkan. Spekulasi tentang kemampuan nuklirnya pun menjadi perhatian komunitas internasional.
Catatan pinggirnya, dalam realitas geopolitik, kemampuan mengancam jalur energi global adalah kartu tawar yang jauh lebih “senyap” namun mematikan.
Nuklir menimbulkan kehancuran instan dan respons militer langsung. Akan tetapi blokade selat menciptakan tekanan ekonomi global yang merambat perlahan—namun menyiksa.
Harga BBM naik, biaya transportasi meningkat, harga pangan terdorong, dan daya beli masyarakat turun. Yang terdampak bukan hanya pemerintah atau korporasi, melainkan warga biasa di berbagai belahan dunia.
Dalam skenario ekstrem, krisis energi dapat memicu resesi global. Negara-negara berkembang yang rentan impor energi akan menghadapi tekanan fiskal berat. Subsidi membengkak. Anggaran sosial tergerus. Ketidakpuasan publik meningkat.
Geografi sebagai Takdir Politik
Di sinilah letak paradoksnya. Iran mungkin tidak memiliki ekonomi sebesar negara-negara Barat, tetapi posisinya di peta memberi daya tekan luar biasa. Geografi menjadi alat negosiasi—bahkan intimidasi.
Sejarah menunjukkan bahwa jalur laut sempit selalu menjadi titik rawan konflik: dari Terusan Suez hingga Selat Malaka. Namun Hormuz dan Bab el-Mandeb memiliki sensitivitas unik karena menyangkut energi—darah kehidupan ekonomi modern.
Maka yang dikhawatirkan dunia bukan semata rudal atau drone, melainkan kemungkinan bahwa konflik regional menjelma menjadi krisis energi global. Dalam dunia yang saling terhubung, satu selat yang tersumbat bisa membuat jutaan keluarga di berbagai negara menanggung akibatnya.
Pada akhirnya, senjata paling kuat bukan selalu yang paling bising. Kadang ia terletak pada garis tipis di peta—yang jika digeser sedikit saja, bisa mengguncang dunia.

Stephanus SB Raharjo (Pengamat Sosial)












