Siapa yang Mau Dipaksa Beli Mobil Listrik di Indonesia? – Otomotif

  • Whatsapp


Mobil listrik MG ZS diperkenalkan di IIMS 2021-dok.Majalahtime.com

JAKARTA, Majalahtime.com – Industri otomotif nasional tengah melalui transisi menuju era kendaraan elektrifikasi. Perubahan ini jangan dilakukan instan, karena hanya menciptakan distrupsi besar bagi pelaku industri dan konsumen sendiri.

Pemerintah dalam hal ini, Presiden Joko Widodo, hasratnya adalah supaya mobil listrik lebih populis, supaya menciptakan industri masa depan yang ramah lingkungan. Salah satu alasan utamanya, Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia, salah satu bahan baku baterai, yang ada pada mobil listrik.

Payung regulasi sudah dikeluarkan, investor diajak masuk, insentif dikucurkan, sampai parkir murah di Ibu Kota dan bebas ganjil-genap di jalan protokol. Latar belakang Indonesia sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia, juga jadi salah satu alasan. Tentu saja ada urusannya dengan upaya Indonesia sebagai warga dunia mengurangi efek rumah kaca lewat penurunan karbon dioksida.

Tapi, ada satu hal yang kurang diperhatikan pemerintah. Siapa sejatinya siapa yang mau dipaksa beli mobil listrik di Indonesia?

Mobil listrik Tesla Model 3 buatan pabrikan asal Amerika Serikat, Tesla Inc yang kini semakin merajalela menyelusup ke berbagai pasar dunia -dok.Istimewa-via-Tesla-North

Tayangan youtube, “Sekutomotif” milik youtuber Gofar Hilman ketika mencoba Tesla untuk kali pertamanya mengusik sudut pandang tulisan ini. Selain itu, webinar bertajuk “Quo Vadis Industri Otomotif di Era Kendaraan Elektrik” oleh Forum Wartawan Industri bersama Kementerian Perindustrian juga ikut menyumbang.

Memang Tesla Model 3 Performance yang dibawa Rudi Salim, owner dari diler mobil impor CBU Prestige, bisa bikin decak kagum yang melihat. Keinginan untuk memiliki, tentu saja menggugah. Tapi, ketika mendengar harganya RP 2,1 miliar, kira-kira siapa yang sanggup beli?

Ketua V Gaikindo Shodiq Wicaksono mengatakan, transisi peralihan pasar mobil di Indonesia dari jenis mesin konvensional atau mesin pembakaran internal (ICE) menuju mobil listrik murni atau kendaraan listrik baterai (BEV) perlu proses dan tidak bisa instan.

Balik lagi, bicara otomotif enggak melulu soal model baru, modifikasi, atau kemahiran mengemudi. Ini soal industri yang melibatkan pemanufaktur, para perusahaan pemasok komponen, sampai produk jadi menyentuh konsumen. Di sekelilingnya melibatkan lebih dari 2 juta tenaga kerja yang hadir di sektor ini.

“Dari sisi konsumen misalkan, harga BEV saat ini masih terlalu mahal yaitu Rp 600 jutaan (Hyundai Kona EV dan Ioniq EV). Sedangkan daya beli masyarakat Indonesia kini, (masih) berada di bawah Rp 300 juta karena PDB per-kapita masyarakat ada di kisaran 4.000 dollar AS,” kata Shodiq, Jumat (15/10/2021).

Mobil listrik Wuling Hong Guang Mini menjadi mobil listrik terlaris di Cina Januari 2021-dok.Inside-EVs

Fakta data berbicara, meski ekspos mobil listrik begitu masif, mimpi konsumen begitu besar, tapi ketika melihat kenyataan, penjualannya masih minim.

Data Gaikindo menunjukkan, per-September 2021, penjualan BEV baru 611 unit, hanya 0,1 persen terhadap total pasar nasional. Kemudian mobil dengan teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) 44 unit, baru Hybrid Electric Vehicle 1.737 unit atau 0,3 persen.

Model yang terlaris, mobil hybrid, mulai menembus angka 1.000 unit karena model yang ditawarkan mulai beragam. Sedangkan mobil listrik masih minim jumlahnya.

Paling buat taksi atau jadi model “penggentar” prinsipal yang mau terjun bisnis langsung ke Indonesia, supaya terlihat terdepan dalam hal teknologi. Namun, target utamanya ya tetap jualan model ICE, karena memang Indonesia pasar utamanya di situ yang terbesar.

Belum lagi agenda negara yang butuh hegemoni, supaya mobil buatannya bisa menembus pasar internasional,  diterima di pasar negara lain. Soal harus rugi sampai rugi miliaran dollar AS, bukan masalah.

Soal ini, jangan terlalu naif dan waktu akan berbicara, kawan!

Singkat kata, kalau sudah ada BEV yang harga Rp 200 jutaan atau minimal di bawah Rp 300 juta mulai ditawarkan diler-diler di Indonesia. Baru deh, peralihan mungkin saja terjadi. Tentu saja ini ada kaitannnya soal infratsruktur berupa alat cas yang lebih tersebar di Indonesia.

Mikir!



Sumber Berita

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.