Media Internasional Mewartakan Presiden Jokowi Dukung Amnesti Akademisi Soal Kritik Perekrutan Dosen



Majalahtime.com – Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia, sebagaimana media Internasional seperti Reuters melaporkan kebijakan Presiden Indonesia, Joko Widodo sepakat untuk memberikan amnesti kepada seorang akademisi yang dipenjara pada bulan lalu.

Akademisi yang berprofesi dosen dari Provinsi Aceh, Saiful Mahdi dipenjara selama tiga bulan karena komentar yang dibuat dalam obrolan grup WhatsApp sesama akademisi, yang mengkritik proses perekrutan dosen.

Sehingga menjerat akademisi tersebut dikarenakan diduga pencemaran nama baik di bawah undang-undang internet yang kontroversial, kata seorang menteri, menyusul protes dari kelompok-kelompok hak asasi manusia yang mengatakan undang-undang tersebut berisiko membatasi kebebasan berbicara.

Kasus Saiful memicu keluhan atas kemudahan di mana orang dapat dituntut di Indonesia untuk komentar yang dibuat di platform perpesanan, termasuk komentar tentang orang yang bahkan tidak diidentifikasi. Bahkan Amnesty International menyebut undang-undang itu “sangat cacat”.

Salah satunya produk hukum yang dimaksud yakni Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) 2008 dirancang untuk mengatur aktivitas online, termasuk pencemaran nama baik dan ujaran kebencian.

Antara 2016 dan 2020, ada 786 kasus yang melibatkan hukum, dengan 88% dari mereka yang didakwa berakhir di balik jeruji besi, menurut Damar Juniarto dari kelompok advokasi digital, Jaringan Kebebasan Berekspresi Asia Tenggara (SAFEnet).

Jokowi mengatakan dia ingin merevisi undang-undang tahun ini. Sehingga, Pihaknya melalui Pemerintah telah membentuk satuan tugas untuk mengawasi dan memberikan pedoman bagi penegak hukum untuk menerapkan hukum secara lebih bijaksana.

Syahrul, pengacara Saiful, mengatakan kepada Reuters bahwa kliennya menghargai amnesti, yang tanpanya pengalamannya dapat “berdampak buruk pada kebebasan akademik dan berbicara.”

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dia mengatakan 38 sarjana di Australia menulis kepada presiden, meminta pengampunan Saiful. Istri Saiful, Dian Rubianty, menangis selama seminar online dan mengatakan kasusnya “telah mencuri tidur dari saya dan anak-anak saya”.

Menteri Keamanan Indonesia Mahfud MD pada hari Selasa mengatakan Jokowi, demikian presiden dikenal, telah menyetujui amnesti untuk Saiful dan akan menunggu umpan balik dari parlemen sebelum memberikan grasi.

Ditanya mengapa Jokowi mendukung amnesti dalam kasus Saiful, juru bicara kepresidenan merujuk Reuters ke menteri keamanan.

Amnesti presiden diberikan pada tahun 2019 kepada seorang wanita yang dipenjara di bawah undang-undang yang sama karena merekam panggilan telepon cabul dari bosnya.



Sumber Berita

Pos terkait