Listrik Sebagai Upaya Alternatif Kelangkaan dan Mahalnya Energi



Majalahtime.com – Otoritas pasar energi di Singapura angkat bicara soal faktor apa saja yang menyebabkan harga listrik spot di Singapura melonjak, pasalnya dengan alasan tersebut dikarenakan pasokan dari Sumatra Selatan, Indonesia menjadi berkurang.

Padahal, kontrak berjangka energi listrik berbasis triwulanan diperdagangkan pada level tertinggi sejak kontrak diluncurkan pada tahun 2015. Sehingga listrik Singapura yang berbasis bulanan, telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak awal bulan

Permintaan komoditas bahan bakar itu diproyeksi melonjak seiring dengan pelonggaran pembatasan perjalanan terkait virus corona. Proyeksi minyak terdorong oleh perkiraan akan terjadi defisit pasokan dalam beberapa bulan ke depan.

Harga minyak mentah tertahan di kisaran tertingginya selama tiga tahun terakhir, di atas US$ 85 per barel. Minyak mentah berjangka Brent ditutup naik 86 sen, atau 1%, menjadi US$ 84,86 per barel. Pada Jumat, (15/10/2021)

Minyak semakin terangkat dengan kenaikan harga batubara dan gas, yang menyebabkan banyak pembangkit beralih ke minyak. Dilain itu, Permintaan atas minyak meningkat, seiring dengan pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19.

Perusahaan energi AS minggu ini menambahkan rig minyak dan gas alam selama enam minggu berturut-turut karena melonjaknya harga minyak mentah mendorong pengebor untuk kembali ke sumur.

Sebagaimana dilaporkan oleh Kontan, Jumlah rig minyak dan gas AS, indikator awal produksi masa depan, naik 10 menjadi 543 dalam seminggu hingga 15 Oktober, tertinggi sejak April 2020, perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan dalam laporannya yang diikuti dengan cermat pada hari Jumat.

Pasokan global akan ketat karena penurunan tajam stok minyak terjadi di AS dan negara-negara anggota Organization of Economic Co-operation and Development (OECD).

Advertisement. Scroll to continue reading.

 

Listrik Sebagai Alternatif Kelangkaan Energi

Analis Pusat Studi Politik dan Kebijakan Strategis Indonesia (POLKASI), Janu Wijayanto menyarankan baterai sebagai langkah alternatif untuk antisipasi kelangkaan energi. Selain itu, sebagai momentum untuk membiasakan diri dengan aktivitas digital.

“Sy melihat ada trend menuju cara hidup baru yi menciptakan kebutuhan baru akan batere. Spt halnya saat ini kita alami pandemi menciptakan kondisi cara hidup baru membiasakan diri dgn aktivitas digital, kegiatan serba online dll bahkan dilakukan oleh lembaga negara untuk urusan penting negara (nyaris tanpa resistensi) krn mmg secara praksis yang menjawab keadaan adl dgn kegiatan virtual, Selain itu, Saya melihat trend warga dunia mesti menyiapkan adaptasi baru. Seakan evolutif dan alamiah ttp sebenernya sgt revolusioner,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurutnya, kehidupan diera globalisasi tidak dapat dihindari oleh setiap manusia, meskipun ada penolakan terhadap fenomena tersebut.

“Seperti halnya orang-orang berbagai negara dan bangsa pada awalnya tidak percaya dan bahkan diawali dgn kecurigaan dan penolakan thd globalisasi, termasuk beberapa kalangan kritis melihat dengan kecurigaan dan gerakan anti globalisasi, tetapi pada akhirnya globalisasi diterima dgn sukarela bahkan dianggap keniscayaan zaman. Saya melihatnya ada trend dan pola semacam itu dari gerak situasi yg ada,” tambahnya.

Hal tersebut, langkah skenario yang harus disiapkan oleh Indonesia yakni listrik maupun baterai sebagai bagian dari aset bangsa dan menjadi kebutuhan manusia.

Selain itu, listrik sebagai langkah antisipatif kelangkaan bahan bakar minyak.

“Yang terpenting dari perubahan dinamis yang kerap terjadi di bbrp sektor kehidupan negara, diperlukan respon cara pandang yang futuris tetapi juga realis. Dengan keluasan analisa (multi dimensional). Antisipasi keadaan terburuk dari krisis energi sampai ke Indonesia harus segera disiapkan langkah-langkah skenario. Mengingat listrik sudah menjadi kebutuhan dan aset vital di masyarakat. Banyak faktor akan terdampak. “Lebih baik kita over estimate daripada tidak siap dgn kondisi terburuk yang akan dihadapi jika hal itu terjadi”, pungkasnya.

 

Advertisement. Scroll to continue reading.
Kelangkaan Solar di Riau

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi diberbagai SPBU yang ada di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan antrian dari berbagai macam di POM Bensin untuk mendapatkan solar tersebut.

Namun, bukan perkara yang mudah untuk mendapatkan solar tersebut, sehingga belakangan ini sering menimbulkan berbagai macam kegelisahan. Terutama disektor jasa transportasi dan distribusi barang dari kota ke kota.

Fenomena tersebut, Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal Ahok baru mengetahui informasi tersebut, pihaknya akan menindaklanjuti dan mengambil upaya inisiatif dalam rangka antisipasi kelangkaan BBM.

Salah satunya soal kelangkaan BBM Subsidi dikarenakan diwilayah Riau, stok BBM menipis, Hingga Ahok menduga adanya penyelewengan.

Kendati demikian, Ahok berupaya meminta kepada direksi Pertamina dalam menangani fenomena kelangkaan BBM, ia berharap masalah tersebut tidak berlarut-larut.

“Bisa jadi karena banyak penyimpangan, Sudah (saya) minta direksi kerjakan” tegas Ahok.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, mengaku bahwa pihaknya belum mengetahui soal kelangkaan tersebut, pasalnya belum mendapatkan laporan secara resmi dari Pertamina. Sehingga pihaknya akan berinisiatif untuk menyampaikan ke Pertamina soal kelangkaan tersebut.

“Solar itu stoknya banyak, saya gak tau kenapa ada kekurangan. Apakah bocor?Kalau dari pusat alokasinya cukup, dan alokasinya dari pusat sudah cukup. Saya baru dengar ada kelangkaan, tidak ada langka-langka” kata Arifin saat kunjungan kerja ke Riau, Kamis (14/10/2021).

Dalam kunjungannya, Arifin juga membahas soal Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang ditargetkan mampu memproduksi di atas 200 ribu barel hingga awal 2023 mendatang. Tentu peningkatan ini dapat dilakukan dengan menambah sumur-sumur baru.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Saat ini memang penurunan sudah dapat dikendalikan. Ini berkat bertambahnya pengeboran – pengehoran baru,” kata Arifin.

Untuk monitoring kinerja PHR, saat ini pihaknya tengah mencanangkan lebih hemat waktu dan biaya. “Sehingga bisa mendeteksi masalah- masalah di lapangan dan dilakukan perbaikan. Tentu menggunakan informasi terbaru,” jelasnya.



Sumber Berita

Pos terkait