Iran Bersumpah untuk Menanggapi Serangan Mematikan Israel di Konsulat

“Rezim Zionis akan dihukum oleh tangan para pejuang kita yang pemberani.”

Demikian pernyataan tertulis Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dibacakan penyiar stasiun televisi pemerintah Iran IRIB, hari Selasa (2/4). Khamenei berjanji akan membalas serangan udara Israel ke gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, yang menewaskan dua jenderal tinggi dan lima penasihat militer Iran.

“Kami akan membuat Israel menyesali tindak kejahatan ini dan tindak kejahatan lain yang telah mereka perbuat,” kata Khamenei.

Perdana Menteri Suriah Hussein Arnous mengunjungi kedutaan besar Iran di Damaskus hari Selasa, sehari setelah serangan.

“Serangan ke lokasi seperti ini, di jantung daerah sipil, di konsulat yang memberi pelayanan kepada warga negaranya, ini adalah serangan yang melanggar hukum. Ini melanggar segalanya. Saat ini kami berusaha sekuat mungkin menyelamatkan jasad-jasad yang masih terjebak di bawah bangunan ini. Kami terus melakukannya sejak bangunan ini runtuh sampai sekarang.”

Di sisi lain, pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan di Yerusalem bahwa Israel beroperasi “di mana-mana, setiap hari” untuk menangkal musuh-musuhnya.

“Dan supaya jelas, kepada semua pihak yang bertindak melawan kami – di seluruh Timur Tengah – bahwa harga yang harus dibayar karena melawan Israel akan sangat besar,” tandasnya.

Gallant tidak secara langsung menyinggung serangan ke konsulat Iran di Suriah. Israel pun belum secara resmi membenarkan tuduhan bahwa mereka adalah dalang serangan tersebut.

Amerika Serikat sendiri masih mengumpulkan informasi terkait serangan hari Senin (1/4) itu.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, yang sedang berada di Prancis, mengatakan pada Selasa, “Kami masih berusaha mencari fakta. Kami masih mempelajari apa yang persisnya terjadi dan kami masih melakukannya untuk mengetahui secara rinci. Tapi kami – Prancis dan Amerika Serikat – bekerja sama setiap hari, terutama di Lebanon, untuk mencegah terjadinya konflik di antara berbagai pihak.”

Dalam konferensi pers telepon hari Selasa, juru bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengecam serangan tersebut tanpa melemparkan tuduhan.

“Pada saat ini, kami tidak akan tergesa-gesa mengambil kesimpulan (tentang siapa yang melakukan serangan), tapi bagaimanapun juga serangan seperti itu merupakan pelanggaran terhadap semua dasar undang-undang internasional dan sebuah bentuk agresi.”

Hal senada disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin dalam jumpa pers di Beijing, Selasa.

“China mengutuk serangan ke Kedutaan Besar Iran di Suriah. Keamanan institusi diplomatik tidak boleh dilanggar. Selain itu, kedaulatan, kemerdekaan dan integritas wilayah Suriah harus dihormati. Situasi di Timur Tengah masih bergejolak dan kami menentang tindakan apa pun yang dapat meningkatkan ketegangan.”

Indonesia juga segera mengutuk serangan ke gedung dan fasilitas diplomatik tersebut. Melalui X, yang dulu dikenal sebagai Twitter, Kementerian Luar Negeri RI menegaskan “serangan ini adalah pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB.”

Berbeda dari Rusia dan China Indonesia secara terbuka menuduh Israel berada di balik serangan tersebut.

“Serangan ini merupakan satu dari sekian banyak aksi Israel yang meningkatkan eskalasi konflik dan dapat menghapus prospek perdamaian di kawasan,” lanjut pernyataan Kemlu RI.

Serangan itu menewaskan Jenderal Mohammad Reza Zahedi, yang memimpin pasukan elit Quds di Lebanon dan Suriah hingga 2016, menurut Garda Revolusi Iran.

Serangan itu juga membunuh wakil Zahedi, Jenderal Mohammad Hadi Hajriahimi, dan lima pejabat lainnya.

Seorang anggota Hizbullah juga tewas dalam serangan hari Senin, sehingga jumlah keseluruhan korban tewas mencapai delapan orang.

Israel telah berulang kali melancarkan serangan terhadap pejabat militer Iran, yang mendukung kelompok-kelompok militan di Gaza dan di sepanjang perbatasannya dengan Lebanon.

Serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu semakin meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang telah meluas ke seluruh Timur Tengah sejak pecahnya kembali perang di Gaza.

Hingga kini, Teheran secara hati-hati menghindari konflik langsung dengan Israel sambil mendukung para sekutunya untuk menyerang sasaran-sasaran Israel dan AS. [rd/jm]