PRAFI SP3, Keteduhan yang Tumbuh di Manokwari

PRAFI SP3, Keteduhan yang Tumbuh di Manokwari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Majalah TIME.com — Di sebuah kawasan hijau di Manokwari, Papua Barat, kehidupan berjalan tanpa banyak gaduh. Rumah-rumah tertata, pepohonan menaungi jalan, masjid dan gereja hidup bersama. PRAFI SP3 menawarkan cerita sederhana tentang permukiman, keberagaman, dan kemajuan yang tak harus mengusir alam.

Pagi datang dengan cara yang sederhana di PRAFI SP3. Matahari menyelinap di antara pepohonan, menyentuh atap rumah dan jalan-jalan yang membelah kawasan permukiman. Udara masih terasa segar. Sesekali kendaraan melintas, tapi tak sampai memecah ketenangan.

Di kawasan yang berada di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, itu, kehidupan seperti bergerak dengan kecepatannya sendiri.

Tak ada gedung menjulang. Tak ada deretan pusat perbelanjaan atau kemacetan yang menjadi penanda kota-kota besar. Yang menonjol justru pepohonan rindang, halaman rumah, jalan lingkungan, sekolah, rumah ibadah, dan lapangan tempat warga bertemu.

PRAFI SP3 tumbuh dari sejarah kawasan transmigrasi. Namun menyebutnya semata sebagai kawasan transmigrasi terasa kurang lengkap. Dalam perjalanan waktu, tempat ini telah berkembang menjadi ruang hidup bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Orang datang, menetap, membangun rumah, membesarkan anak, membuka usaha, berkebun, bekerja, lalu membentuk komunitas.

Dari proses panjang itulah wajah PRAFI SP3 hari ini terbentuk.

Kota Kecil di Tengah Hijau

Hal pertama yang mudah ditangkap ketika memasuki kawasan ini adalah warna hijau.

Pohon-pohon besar tumbuh di banyak sudut. Sebagian berdiri seperti kanopi alami di tepi jalan. Di tengah terik Papua, pepohonan itu bukan sekadar pemanis pemandangan. Mereka menghadirkan keteduhan yang menjadi bagian dari keseharian warga.

Rumah-rumah tersusun relatif teratur. Jalan menghubungkan satu bagian permukiman dengan bagian lainnya. Fasilitas pendidikan menjadi tempat anak-anak dari kawasan sekitar belajar dan tumbuh.

PRAFI SP3 karena itu menyerupai sebuah kota kecil.

Bukan kota dalam pengertian administratif ataupun metropolitan, melainkan sebuah lingkungan yang kebutuhan dasarnya tumbuh mengikuti kehidupan penduduknya. Ada sekolah, rumah ibadah, ruang terbuka, lapangan olahraga, warung, serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Pembangunan di sini tidak tampil dengan wajah spektakuler. Justru kesederhanaan itulah yang terasa menonjol.

Orang dapat berjalan tanpa terus-menerus berhadapan dengan beton. Rumah masih mempunyai ruang dengan pepohonan di sekitarnya. Langit terlihat luas.

Pada zaman ketika banyak kawasan berkembang dengan menyingkirkan ruang hijau, pemandangan semacam itu terasa semakin berharga.

Masjid, Gereja, dan Ruang Bersama

Ada cerita lain yang lebih penting daripada sekadar keteduhan alam: keberagaman penduduknya.

Masjid dan gereja menjadi bagian dari lanskap kehidupan masyarakat. Warga dengan keyakinan berbeda menjalani kehidupan sehari-hari dalam ruang sosial yang sama.

Kerukunan itu tidak selalu membutuhkan slogan besar. Ia justru terlihat dari sesuatu yang biasa: bertetangga, bersekolah, berbelanja, bekerja, menghadiri kegiatan kampung, atau berpapasan setiap hari.

Perbedaan akhirnya menjadi bagian dari rutinitas.

Di wilayah seperti Papua Barat, tempat masyarakat dengan beragam latar belakang budaya dan sejarah bertemu, kehidupan sosial semacam ini mempunyai arti penting. Integrasi bukan sekadar persoalan siapa datang dari mana, melainkan bagaimana orang-orang yang berbeda dapat merasa memiliki tempat yang sama.

PRAFI SP3 memperlihatkan proses itu dalam skala kecil.

Identitas tidak harus dilebur menjadi seragam. Masyarakat justru dapat mempertahankan latar belakang masing-masing sambil membangun kepentingan bersama sebagai warga.

Lapangan yang Menjadi Titik Pertemuan

Menjelang sore, salah satu denyut kehidupan dapat ditemukan di lapangan bola.

Anak-anak datang bermain. Anak muda berolahraga. Warga lain sekadar berdiri atau duduk, mengobrol sambil menikmati udara yang mulai dingin.

Lapangan akhirnya mempunyai fungsi lebih luas daripada ukuran garis putih dan dua tiang gawang.

Ia menjadi ruang sosial.

Di banyak permukiman, ruang semacam ini perlahan menghilang. Tanah kosong berubah menjadi bangunan. Anak-anak lebih sering bertemu melalui layar. Interaksi warga berpindah ke telepon genggam dan media sosial.

Di PRAFI SP3, lapangan masih menyediakan alasan bagi orang untuk keluar dari rumah dan bertemu secara langsung.

Di sanalah anak-anak mengenal teman sebaya, orang tua bertukar cerita, dan kehidupan komunitas dipelihara tanpa perlu acara resmi.

Kadang sebuah kampung justru dibangun oleh ruang-ruang sederhana seperti itu.

Kemajuan Tak Selalu Berupa Beton

PRAFI SP3 menawarkan pertanyaan menarik mengenai cara kita mendefinisikan kemajuan.

Selama puluhan tahun, pembangunan kerap dibayangkan melalui ukuran yang mudah terlihat: jalan semakin lebar, bangunan semakin tinggi, kendaraan semakin banyak, dan pusat perdagangan semakin besar.

Padahal kualitas sebuah tempat tinggal tidak selalu dapat dihitung dengan ukuran tersebut.

Lingkungan yang teduh, akses pendidikan, jalan yang layak, ruang publik, hubungan antartetangga, keamanan, serta kemampuan masyarakat hidup berdampingan juga merupakan bentuk kemajuan.

Bahkan, ketika kota-kota besar mulai menghadapi persoalan polusi, kemacetan, kepadatan, dan hilangnya ruang terbuka, sesuatu yang dahulu dianggap biasa—pohon besar di depan rumah, udara segar, atau lapangan tempat anak-anak bermain—berubah menjadi kemewahan.

PRAFI SP3 belum tentu sempurna. Sebagaimana kawasan lain yang terus berkembang, ia tentu menghadapi kebutuhan infrastruktur, pelayanan publik, kesempatan ekonomi, dan tantangan generasi baru.

Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan hanya membangun lebih banyak, melainkan menentukan apa yang perlu dibangun dan apa yang harus dipertahankan.

Jalan dapat diperbaiki. Fasilitas publik dapat ditambah. Aktivitas ekonomi dapat diperkuat. Namun pepohonan, ruang terbuka, serta hubungan sosial yang sudah terbentuk membutuhkan perlindungan agar tidak hilang bersama datangnya pembangunan.

Itulah tantangan sesungguhnya.

PRAFI SP3 memperlihatkan bahwa sebuah kawasan tidak harus menjadi kota besar untuk memberikan kehidupan yang layak. Ia bisa berkembang sebagai kota kecil yang cukup: memiliki fasilitas, ruang sosial, kehidupan ekonomi, dan lingkungan yang masih memberi manusia kesempatan untuk dekat dengan alam.

Ketika senja turun, langit Papua membentang di atas rumah-rumah dan pepohonan. Aktivitas di lapangan perlahan berkurang. Warga kembali ke rumah masing-masing. Suasana kembali tenang.

Tak ada yang luar biasa dari pemandangan itu.

Justru di situlah nilainya.

Di tengah dunia yang berlomba menjadi lebih cepat, lebih padat, dan lebih bising, PRAFI SP3 seperti mengingatkan bahwa kemajuan juga bisa berarti sesuatu yang sangat sederhana: sebuah tempat yang membuat manusia masih nyaman untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *